Telepon

0813-3575-2809

E-Mail

pustakaalmuhibbin04@gmail.com

Jam Buka

Senin - Sabtu: 08.00 - 17.00 WIB

  • Cerita 91: Rezeki dan Jodoh Hanya Allah yang Menentukan

    Diceritakan bahwa pangeran Yazîd bin Mu’âwiyah melihat seorang wanita cantik di sebuah kebun, kemudian ia tergoda dengan kecantikannya. Wanita itu adalah istri ‘Âdi bin Ḥâtim. Memang dia adalah wanita yang cantik sempurna bernama Ummu Khâlid. Oleh karenanya, Yazîd jatuh sakit sebab memikirkan wanita itu sehingga ia tidak pernah keluar dari tempat tidurnya. Orang-orang kerajaan menjenguknya dan tidak ada yang mengetahui apa sesungguhnya penyakit yang dideritanya, dan Yazid pun tidak pernah mengungkapkan rahasianya kepada siapapun. Kemudian ‘Amr bin ‘Aṣ berkata “Masalah ini tidak akan ada yang bisa mengetahui kecuali melalui ibunya sendiri, dan agar ibunya masuk ke kamar Yazîd, yang di dalam kamar hanya ada mereka berdua (Yazîd dan ibunya) sehingga ibunya dapat leluasa bertanya kepadanya.”

    Pendapat ‘Amr bin ‘Aṣ ini dapat diterima dan kemudian ibunya masuk ke kamar Yazîd seraya menanyainya tentang sesuatu yang menimpa dirinya. Tak henti-hentinya sang ibu bertanya hingga Yazîd mau mengungkapkan rahasianya kepada sang ibu. Setelah mendapat penjelasan dari Yazîd, ibunya menceritakan hal itu kepada ayahnya (Mu’âwiyah).

    Kemudian Mu’âwiyah bertanya kepada ‘Amr bin ‘Aṣ “Bagaimana merekayasa hal ini?”
    “Berikan kepada ‘Âdi sejumlah harta dan perhiasan agar ia mau datang kepada kita dari Madinah.” jawab ‘Amr bin ‘Aṣ.
    Apa yang menjadi pendapat ‘Amr bin ‘Aṣ dilaksanakan oleh Mu’âwiyah hingga suaminya (‘Âdi bin Ḥâtim) keluar dari Madinah menuju Damaskus. Ketika telah masuk rumah, Mu’âwiyah memberinya harta dan perhiasan yang sangat banyak. Dan ketika ia (‘Âdi) telah keluar dari rumahnya, Mu’âwiyah bertanya kepada ‘Amr “Bagaimana rekayasanya setelah ini?”
    “Bila besok pagi ‘Âdi datang lagi kepadamu, maka bertanyalah kepadanya ‘Apakah engkau sudah beristri?’ Jika ia menjawab ‘Iya’ maka engkau tidak perlu memberikan jawaban, akan tetapi pukullah wajahmu dengan tanganmu sendiri.” jawab ‘Amr bin ‘Aṣ.
    Ketika ‘Âdi telah datang kepada Mu’âwiyah, ia bertanya kepada ‘Âdi, selanjutnya melakukan apa saja yang menjadi petunjuk ‘Amr. Melihat apa yang dilakukan Mu’awiyah, Adi keluar dari samping Mu’âwiyah.
    Tiba-tiba ‘Amr menjemputnya di depan pintu seraya menanyakan apa yang dilakukan Mu’âwiyah di depannya. Setelah mendapatkan jawaban dari ‘Âdi, ‘Amr bin ‘Aṣ berpura-pura merasa susah dengan apa yang dilakukan Mu’âwiyah.
    “Wahai ‘Âdi! Sebetulnya khalifah ingin menikahkanmu dengan putrinya dan akan memberimu harta yang sangat banyak, dan engkau mengerti sendiri bahwa putri-putri raja itu tidak boleh dimadu. Makanya ia menampar wajahnya dengan tangannya sendiri.” kata ‘Amr bin ‘Aṣ.
    “Bagaimana caranya aku menyampaikan kepada khalifah?”
    “Jika besok engkau datang lagi kepada khalifah dan ia bertanya kepadamu, katakan saja kepadanya ‘Wahai Amîrul mu’minîn! Aku tidak mempunyai istri.'”

    Ketika Adi datang lagi bertemu Mu’âwiyah, benar saja Mu’âwiyah bertanya “Adakah kamu beristri?”
    “Tidak.”
    “Jika jawabanmu itu benar, maka katakan ‘Jika aku beristri, maka istriku talak ba`in (talak putus).'” Kemudian ‘Âdi mengucapkan seperti itu.
    Mu’âwiyah berkata kepada para penulisnya “Tulislah apa yang dikatakan ‘Âdi.” Para penulis pun melakukannya.
    Setelah habis masa iddah Ummu Khâlid, Mu’âwiyah mengirimkan harta yang sangat banyak kepada Abû Hurairah dan mengutusnya pergi ke Madinah untuk melamar Ummu Khâlid. Ketika Abu Hurairah masuk Madinah dan bertemu dengan ‘Abdullâh bin ‘Amr, kemudian ditanya tentang keadaannya dan apa yang menjadi maksud kedatangannya, Abû Hurairah menceritakan segala sesuatunya kepada ‘Abdullâh bin ‘Amr.
    “Maukah engkau menyebutkan aku kepada Ummu Khâlid?” kata ‘Abdullâh bin ‘Amr.
    “Ya.” jawab Abû Hurairah.
    Kemudian Abû Hurairah bertemu lagi dengan ‘Abdullâh bin Zubair. Setelah Abû Hurairah menyampaikan maksud dan tujuannya, ‘Abdullâh bin Zubair bertanya “Maukah engkau menyebutkan aku kepada Ummu Khâlid?”
    “Iya.”

    Kemudian Abû Hurairah bertemu dengan Ḥusain bin ‘Âli t dan terjadi tanya jawab seperti di atas. Setelah Abû Hurairah datang bertemu Ummu Khâlid, ia memberi kabar bahwa suaminya (‘Âdi) telah menjatuhkan talak ba`in kepadanya, dan Khalifah Mu’âwiyah menyuruhnya melamar Ummu Khâlid untuk putranya yang bernama Yazîd. Setelah itu Abu Hurairah berkata kepada Ummu Khâlid, selain Yazîd bin Mu’âwiyah juga ada lagi yang melamarmu, yaitu ‘Abdullâh bin ‘Umar, dan ‘Abdullâh bin Zubair, juga Ḥusain bin ‘Âli.
    “Tolong ceritakan kepadaku keberadaan mereka.” ucap Ummu Khâlid.
    “Yang satu memiliki dunia dan tidak memiliki agama, yaitu Yazîd. Yang dua memiliki dunia dan agama, yaitu ‘Abdullâh bin ‘Umar dan ‘Abdullâh bin Zubair. Sedangkan yang lain memiliki agama dan tidak memiliki dunia, yaitu Ḥusain.” jawab Abû Hurairah.
    “Nikahkan aku dengan siapa saja yang engkau kehendaki dari mereka.”
    “Persoalan ini terserah engkau.”

    “Seandainya engkau tidak datang kepadaku, pasti aku mengutus seseorang datang kepadamu untuk minta musyawarahmu. Maka, bagaimana aku tidak minta musyawarahmu atau saranmu sedang kamu adalah yang menjadi pesuruh.”
    “Wallâhi, aku tidak berani mendahului seseorang yang mulutnya pernah dicium Rasullullah SAW, yaitu Ḥusain.”
    Kemudian Abû Hurairah menikahkan Ḥusain dengan Ummu Khâlid dan menyerahkan semua harta dari Mu’âwiyah. Setelah itu, Abû Hurairah kembali kepada Mu’âwiyah dan menceritakan segala sesuatu yang telah terjadi.

    “Aku telah memberikan harta benda kami kepada orang selain kami.” kata Mu’âwiyah.
    “Engkau tidak mewarisi semua harta itu dari leluhurmu, akan tetapi harta itu adalah harta Allah dan Rasul-Nya kemudian aku berikan kepada cucunya.” jawab Abû Hurairah.
    Setelah ‘Âdi tidak berhasil menikahi putri Khalifah, maka ia kembali pulang ke Madinah dan duduk di samping Husain sambil menarik nafas panjang. Melihat apa yang dilakukan ‘Âdi, Ḥusain bertanya “Apakah engkau ingat Ummu Khâlid?”
    “Ya.”

    Kemudian Husain memanggil Ummu Khâlid seraya bertanya “Apakah aku sudah menyentuhmu?”
    “Belum.”
    “Engkau aku talak dan nikahlah dengan ‘Âdi.” kata Ḥusain kepada Ummu Khâlid.
    “Ketahuilah bahwa aku tidak mempunyai tujuan untuk memperistri Ummu Khâlid, akan tetapi aku melakukan hal ini hanya karena kasihan kepadamu.” lanjut Husain kepada ‘Âdi.
    dikutip dari buku ”101 Cerita: Penegak Iman Peluhur Budi”, karya KH. Moch. Djamaluddin Ahmad.

@pustaka.almuhibbin , WA : 081290742007

Artikel yang Disarankan

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.