Telepon

0813-3575-2809

E-Mail

pustakaalmuhibbin04@gmail.com

Jam Buka

Senin - Sabtu: 08.00 - 17.00 WIB


Kelahiran dan Nasab KH. Baidlowi

Al-Allamah Al-Mursid al-Kamil al-Mukammil KH. Baidlowi bin Abdul Aziz adalah seorang kiai yang terkumpul dalam dirinya kealiman ilmu syari’at dan kedalaman ilmu hakikat. Beliau lahir di Dusun Sumurkepel desa Sumbergirang Lasem Rembang Jawa Tengah, di tempat yang penuh berkah pada hari Kamis tanggal 12 Syawwal 1297 H./17 September 1880 M.
Nasab beliau -seperti yang tertulis di dalam kitab karangan beliau, yaitu ar-Risalah ar-Rajabiyyah- adalah putra KH. Abdul Aziz bin K. Baidlowi Awwal (Joyotirto) bin K. Abdul Lathif. Dalam catatan yang ditemukan di rumah KH. Suyuthi bin Abdul Aziz Rembang disebutkan bahwa K. Abdul Lathif adalah putra dari K. Abdul Bar bin K. Abdul Alim bin K. Abdurrahman (yang terkenal dengan sebutan Sayyid Abdurrahman atau Eyang Sambu) yang dimakamkan di komplek Masjid Jami’ Lasem.Ibunda KH. Baidlowi bernama Nyai Hj. Mu’minah binti KH. Imam Mahalli Sulang bin K. Ishaq bin K. Mas Arum. Dalam beberapa catatan silsilah disebutkan bahwa K. Abdul Lathif bin K. Abdul Bar dan K. Ishaq bin K. Mas Arum adalah sama-sama keturunan dari Kanjeng Sunan Ampel Surabaya. Wallahu a’lam bihaqiqatil Hal.

Guru-Guru KH. Baidlowi

Pada permulaannya KH. Baidlowi belajar agama pada ayahnya sendiri, yaitu KH. Abdul Aziz, seorang Mursyid Thariqah Sathoriyyah, seorang ulama yang memiliki pengetahuan yang mendalam tentang ilmu syari’at dan hakikat. Diceritakan pada hari wafatnya KH. Sholeh Darat Semarang, KH. Abdul Aziz yang saat itu berada di Lasem dengan ilmu kasyafnya mengetahui bahwa KH. Sholeh Darat telah wafat, sehingga beliau menangis dan berkata bahwa KH. Sholeh Darat Semarang telah wafat.Setelah beliau belajar pada ayahnya dan telah tiba saatnya melakukan rihlah ilmu, maka pesantren yang pertama kali beliau tuju untuk melanjutkan pendidikan agama adalah pesantren asuhan KH. Umar bin Harun Sarang. Pada waktu belajar di Sarang beliau dikenal sebagai santri yang suka tidur, sehingga pada waktu beliau dipilih menjadi lurah pondok, teman-teman beliau bergurau, “Orang suka tidur kok menjadi lurah pondok?” Kebiasaan tidur beliau juga terbawa saat mengaji. Meskipun beliau tertidur saat mengaji, tetapi beliau bisa menguasai kitab-kitab yang diajarkan. Beliau nyantri di pesantren Sarang selama ± 10 tahun.

Selesai menimba ilmu di pesantren Sarang, KH. Baidlowi nyantri di pesantren Jamsaren Solo yang diasuh oleh KH. Idris. Pada waktu beliau nyantri di Jamsaren Solo, kebiasaan tidur beliau tidak berubah, tetapi apabila ada masalah-masalah yang diajukan, beliau bisa menjawab dengan benar. Seperti yang diceritakan oleh KH. Abdul Hadi Langitan kepada KH. Abdullah Faqih Langitan. KH. Baidlowi bagi KH. Abdul Hadi sewaktu bersama-sama nyantri di Jamsaren adalah seorang teman sekaligus seorang guru. Memang KH. Baidlowi pada saat nyantri di Jamsaren, beliau sudah membacakan dan mengajarkan kitab-kitab yang besar. Beliau belajar di pesantren Jamsaren selama ± 5 tahun.

Makam Mbah Baidlowi Lasem

Selain itu KH. Baidlowi juga belajar kepada KH. Hasyim Padangan Bojonegoro, seorang kiai pakar ilmu shorof. Kemudian KH. Baidlowi pergi ke Tanah Suci Makkah untuk menimba ilmu kepada ulama-ulama di Tanah Haram utamanya kepada al-Allamah al-Musnid Syaikh Mahfudz bin Abdullah at-Turmusi.Sampai pada akhirnya terjadilah perang Arab melawan Turki. Syarif Husain yang memimpin orang-orang Arab berhasil memaksa pasukan Turki keluar dari Tanah Hijaz. Tidak hanya tentara Turki yang dipaksa keluar dari Tanah Suci Makkah. Bahkan orang-orang yang berasal dari Turki yang tinggal di Masjidil Haram karena semata-mata kecintaan mereka pada Masjidil haram dan tidak mengetahui duduk persoalan perang antara Arab dengan Turki juga diusir dari Tanah Suci Makkah.

Setelah perang Arab-Turki selesai, penduduk Makkah dilanda kelaparan sehingga KH. Baidlowi muda yang sedang menimba ilmu di Makkah, menjual kitab-kitab beliau untuk bertahan hidup. Dan kitab Ihya’ Ulumuddin adalah kitab yang terakhir yang beliau jual. KH. Muntaha al-Hafidz Wonosobo berkata, “Ajaran-ajaran yang terdapat dalam kitab Ihya’ Ulumuddin seakan-akan sudah menyatu dalam diri KH. Baidlowi.Perubahan-perubahan politik yang terjadi di Makkah dan kesulitan-kesulitan ekonomi yang melanda kota Makkah menyebabkan para penuntut ilmu di Makkah banyak yang pulang ke negerinya masing-masing. Begitu juga dengan KH. Baidlowi, beliau pulang ke Indonesia naik kapal Islam dan turun di Bombay India kemudian beliau melanjutkan perjalanan naik kereta api melewati Thailand, Malaysia dan Singapura. Kemudian beliau ikut kapal Belanda sampai ke Indonesia. KH. Baidlowi nyantri di Makkah selama ± 7 tahun.
Sumber : Napak Tilas Auliya’ 2016 : Sejarah Auliya’ Pesisir Utara Jawa. Jombang : Pustaka Al-Muhibbin.

PART II : http://pustakaalmuhibbin.com/kh-baidlowi-bin-abdul-aziz-mbah-baidlowi-lasem-part-ii/

Artikel yang Disarankan

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.