Telepon

0813-3575-2809

E-Mail

pustakaalmuhibbin04@gmail.com

Jam Buka

Senin - Sabtu: 08.00 - 17.00 WIB

Istri dan Anak-Anak KH. Baidlowi

KH. Baidlowi menikah yang pertama dengan Nyai Hj. Halimah, putri KH. Shiddiq dari Tasikagung Rembang, seorang kiai yang sakti dan kaya raya. Dari pernikahan yang pertama, beliau dikaruniai 3 orang anak, yaitu:

  • K. Abdul Bar
  • Nyai Hj. Raudloh
  • Seorang anak yang wafat pada masa kecil

Setelah Nyai Hj. Halimah meninggal dunia, beliau menikah lagi dengan Nyai Hj. Masri’ah (Hamdanah) putri dari KH. Ahmad, cucu dari KH. Abdullah Faqih, seorang ulama tersohor dari Ngadipurwo Blora. Dari pernikahan yang kedua ini, beliau dikarunia putra-putri, yaitu:

  • Nyai Hj. Afwah
  • K. Abdul Qudus
  • KH. Abdul Halim
  • Agus Abdul Malik (wafat di masa kecil)
  • Nyai Hj. Saudah
  • Nyai Hj. Khoiriyyah
  • Hani’ah (wafat di masa kecil)
  • Nyai Hj. Fahimah (Istri  KH. Maimun Zubair)
  • KH. Abdul Hamid     
Makam KH. Baidlowi bin Abdul Aziz (Mbah Baidlowi Lasem)

Peran-Peran Kemasyarakatan dan Keagamaan KH. Baidlowi

Setelah KH. Baidlowi menetap di tanah kelahiran beliau dan mengasuh pondok Pesantren Wahdatut Thullab, maka beliau pun mulia meneruskan perjuangan leluhurnya, berdakwah, ber-amar ma’ruf nahi mungkar, membimbing umat dengan penuh kasih sayang menuju Allah SWT.

KH. Baidlowi selalu istiqamah dan berdakwah dalam melayani umat. Selain mengajar di pesantrennya sendiri, beliau juga menjadi Nadhir Masjid Jami’ Lasem. Demi memakmurkan masjid jami’ beliau mengadakan pengajian kitab di masjid bersama dengan para kiai lainnya. Selain itu beliau juga memakmurkan Madrasah Jaelaniyyah yang terdapat dalam komplek masjid yang dulu pernah menjadi madrasah yang menjadi tujuan para santri.

KH. Baidlowi juga mengabdi di organisasi masyarakat Islam terbesar di Indonesia, yaitu Nahdlatul Ulama (NU). Beliau menjadi Rois Syuri’ah NU cabang Lasem. Selain itu, dalam Muktamar Thariqah yang pertama di Tegalrejo Magelang beliau dipilih menjadi Rois Akbar Ifadhiyyah Thariqah Mu’tabarah, dan kemudian dikukuhkan kembali dalam muktamar yang kedua di Tulungagung Jawa Timur.

Diceritakan, pada waktu muktamar thariqah yang pertama, beliau dipilih menjadi rois setelah para kiai yang beristikhoroh mendapat isyarah, yaitu melihat KH. Baidlowi menjadi imam di Masjidil Haram. KH. Moch. Djamaluddin Tambakberas Jombang bercerita bahwa KH. Mustaqim Tulungagung berkata kepada putranya, yaitu KH. Abdul Jalil, “Pada waktu Muktamar Thariqah di Tulungagung, dari begitu banyaknya kiai, sepertinya yang terlihat hanya KH. Baidlowi.”

Memang KH. Baidlowi memiliki banyak thariqah. Diceritakan bahwa thariqah beliau lebih dari 11, tetapi yang diketahui banyak orang adalah thariqah Syathoriyyah dengan sanad dari ayah beliau sendiri, serta thariqah Syadziliyyah dengan sanad dari KH. Idris Jamsaren. Amanat-amanat tersebut di atas dijalankan dengan istiqamah oleh KH. Baidlowi sampai akhir hayatnya.   

Akhlak dan Moral Sosial KH. Baidlowi

KH. Baidlowi dicintai oleh semua orang, beliau juga sangat dihormati oleh orang-orang non muslim, bahkan penjajah pun segan kepada beliau. Semua itu karena kesalehan dan akhlaq beliau. KH. Manshur Kholil Lasem yang pernah mengaji kitab Tafsir Baidlowi bersama KH. Khudlori Tegalrejo Magelang kepada KH. Baidlowi menyebut beliau sebagai kiai yang wara’, qana’ah, dan khumul.

KH. Abdullah Faqih Langitan mengenang sifat KH. Baidlowi kepada santrinya sebagai hal yang patut diteladani. KH. Baidlowi menurut KH. Abdullah Faqih adalah sosok kiai yang tidak pernah menyusahkan santri, tidak mau membebani santri juga tidak pernah memarahi santri.

KH. Baidlowi adalah sosok yang istiqamah. Sebagai nadhir dan imam masjid jami’, berbagai goncangan dan situasi yang tidak aman tidak membuat keistiqamahan beliau dalam memakmurkan masjid menjadi berkurang. Dalam situasi apa pun apabila tidak ada udzur beliau tetap berjama’ah di masjid. KH. Abdullah Faqih Langitan mengaji kitab Ibnu Aqil hanya berdua dengan KH. Mu’thi Karas-Sedan, meskipun yang mengaji hanya dua santri, tetapi hal itu tidak mengurangi semangat KH. Baidlowi mengajar kitab. Bahkan pernah terjadi pada waktu KH. Abdullah Faqih mengaji sendirian dan tertidur, KH. Baidlowi tetap meneruskan membaca kitab Ibnu Aqil dan membiarkan KH. Abdullah Faqih tidur. Setelah selesai membaca kitab, KH. Baidlowi baru membangunkannya.

Menurut pengalaman KH. Syakur Pasuruan yang mengikuti pengajian KH. Baidlowi di Masjid Jami’ Lasem, kalau KH. Baidlowi datang terlambat lewat dua menit, berarti pengajian hari itu libur. KH. Baidlowi adalah sosok kiai yang zuhud, diceritakan terkadang beliau mandi di kamar mandi santri. Beliau juga tidak segan-segan memakai peci yang usang dan baju yang sederhana, bahkan terkadang kancingnya tidak pas di tempatnya.

bersambung PART III

Artikel yang Disarankan

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.