Telepon

0813-3575-2809

E-Mail

pustakaalmuhibbin04@gmail.com

Jam Buka

Senin - Sabtu: 08.00 - 17.00 WIB

Ahad, 28 Februari 2021

Hadits ke-36

1. Mengajar (mengaji) itu harus melihat siapa yang diajar. Ketika yang diajar itu orang ahli syariat, maka mengajarnya juga harus memakai ilmu syariat. Ketika yang diajar adalah orang ahli thoriqoh, maka mengajarnya juga harus memakai ilmu thoriqoh. Ketika yang diajar adalah orang ahli hakikat, maka mengajarnya juga harus memakai ilmu hakikat.  Jangan sampai orang ahli syariat diajari menggunakan ilmu hakikat, karena pada akhirnya akan menimbulkan ketidak pahaman, apabila menimbulkan ketidak pahaman, imannya kepada Allah SWT nanti menjadi tidak benar.

2. Apabila bercerita kepada masyarakat, lihatlah tipe masyarakat apa yang ajak mengaji. Maka dari itu ketika dakwah tanyalah terlebih dahulu kepada orang yang mengundang, ‘‘masyarakat ini ilmunya menengah ke bawah atau menengah ke atas?’’. Ketika kamu bercerita sesuatu yang tidak mereka pahami, apakah kamu rela ketika Allah dan Rasul-Nya dicela seseorang?.

3. Oleh karena itu, ketika saya mengaji Al-Hikam, pengertian saya selalu berada pada 3 bab : syariat, thoriqoh dan haqiqat.
Karena sering masyarakat lapor. ‘‘saya mengaji kepada Kyai tersebut, keterangannya seperti ini dan ini, benar apa tidak?.’’
‘‘Benar, tetapi untuk orang hakikat.’’

4. Abdulloh bin Alwi al Haddad

Orang ahli ibadah karena taqarrub ilallah dan masih mengharapkan imbalan itu masih disebut ikhlas, menurut orang ahli syariat. Akan tetapi menurut orang ahli hakikat itu tidak bisa disebut ikhlas, ikhlas itu hanya karena Allah saja.

Hadits ke-37

1. Orang yang belajar itu tidak boleh memiliki rasa malu. Begitu juga mengajar, tidak boleh malu. Apabila mempunyai rasa malu, maka tidak akan jadi belajar ataupun mengajar.

2. Orang yang malu itu tidak mungkin belajar ilmu, begitu pula orang yang sombong, tidak mungkin mencari ilmu.

3. Banyak sekali orang-orang yang sombong yang tidak mau untuk mengaji dikarenakan orang yang mengajar itu pernah adik, pondakan, dan lain-lain.

4. Paman saya namanya Nur Ali (Rungkut, Kedung Asem), adiknya bapak yang terakhir, bapak saya anak pertama, ketika saya mengaji kemanapun beliau selalu ikut ngaji, setiap malam Selasa ikut mengaji ke Tambakberas. Ketika mengaji di Njiwan Madiun, Bulurejo Madiun, Surabaya, juga ikut mengaji. Kemanapun ikut mengaji, padahal itu paman, tidak mempunyai rasa malu mengaji kepada keponakannya sendiri.
Malam hari di masjid, pagi di alun-alun Madiun, jam 10 Bulurejo, baru kemudian pulang. Ketika beliau meninggal sudah 7 tahun lamanya, anaknya meninggal dunia. Anaknya berwasiat, ‘‘Ketika aku meninggal, kuburkan di sampingnya bapak.’’
Akhirnya digalilah kuburan di sebelah baratnya, ketika digali terlalu mepet, akhirnya mengenai kain bapaknya, kainnya bedah, ternyata jenazah bapaknya yang berusia 7 tahun masih utuh. Orang yang ahli ngaji jenazahnya utuh.

5. Sahabat Anshor itu tidak malu apabila menuntut ilmu.

Hadits ke-38

1. Perempuan tidak boleh malu belajar ilmu, walaupun ilmu yang ditanyakan berkaitan dengan hal pribadi. ‘‘Apabila seorang perempuan bermimpi keluar mani, apakah wajib mandi?’’.
‘‘Iya, apabila ada seorang perempuan bermimpi keluar mani, tetapi ragu-ragu ada mani yang keluar.’’
Karena banyak sekali seseorang bermimpi berkumpul suami istri, akan tetapi tidak keluar mani.

2. Ummu salamah malu, akhirnya menutupi wajahnya. Pada akhirnya Ummu Sulaim sudah tidak ada di tempat. Ummu Salamah bertanya, ‘‘Iya, kalau perempuan ya keluar mani, wah celaka kamu.’’ ‘‘Maka dari itu ada anak itu mirip dengan ibunya.’’

Intinya, perempuan sahabat Anshor termasuk Ummu Sulaim itu tidak malu-malu, walaupun pertanyaannya menyangkut menyangkut pada pribadinya sendiri.

Hadits ke-39

1. Orang ketika hadats kecil harus wudlu, kalau hadats besar maka harus mandi.

2. Hadramaut itu adalah suatu daerah yang berada di Yaman.

3. Kentut yang tidak keluar suaranya, kentut yang keluar suaranya itu termasuk hadats, itu hanya sebagian.

4. Termasuk sentuhan laki-laki ke perempuan yang bukan mahrom yang sudah baligh.

5. Buang air besar, buang air kecil.

Hadits ke-40

1. Besok orang ahli surga itu ghurrun muhajjalun (wajahnya mencorong), tangan dan kakinya mencorong, ini tidak lain adalah sebab bekas-bekasnya wudlu ketika di dunia.

2. Biasanya masjid Arab itu naik, tempat wudlunya itu naik.

3. Seseorang apabila hendak melakukan ibadah itu diganggu oleh setan, ketika wudlu diganggu, hendak melaksanakan sholat diganggu. Ketika tidur juga diganggu, ‘‘waktunya masih lama, tidurlah!.’’ Akhirnya kelamaan sampai tidak melaksanakan sholat berjama’ah. Ketika wudlu juga seperti itu, apabila sudah selesai wudlu terasa air kencing keluar, itu buktikan memang keluar atau tidak.

4. Terkadang seperti kentut, padahal tidak kentut. Itu karena apa? Karena ditiup setan agar menjadi ragu-ragu.

5. Ada yang berat ketika takbirotul ihrom, merasa tidak jadi terus. Apabila ragu0ragu saja, tidak yakin harus wudlu kembali. Apabila sholat atau hendak melaksanakan sholat itu terbayang seperti keluar kentut. Apabila terdengar suara itu namanya yakin, atau tidak keluar suara tapi bisa mencium baunya.

Dikutip dari Pengajian Jawahirul Bukhori KH. Moch. Djamaluddin Ahmad.

Pengetik teks asli oleh Ahmad Miftahul Mubin

#Ngaji Jawahirul Bukhori, Ahad 28 Februari 2021

((36))

-Wong mulang iku kudu ndelok seng diwulang

Seng diwulang iku wong ahli syariat , ilmu ne kidu ilmu syariat

Seng diwulang iku wong thoriqot, ilmunr kudu ilmu thoriqoh

Seng diwulang wong ahli hakikat

Ojo sampek wong syariat diwulang ilmu hakikat, akhire gak paham, kapan ora paham ngko kliru, imane ng Gusti Allah ngko hak bener

-nek cerito ng masyarakat deloken masyarate opo

-mangkane kapane dakwah takokne wong seng ngundang, masyarakate iku ilmu ne menengah ke bawah ta menengah ke atas?

-kapane mbok critane seng ora paham opo awakmu demen Allah dipisuhi wong. nabi dipisuhi wong

-mulane aku nek ngaji hikam, pengertianku mesti 3, syariat thoriqot hakikat,

mergo sering masyarakat lapor, “kulo ngaji ten yai niko, keterangan e ngeten ngeten, leres nopo mboten?” “bener tapi kanggone wong hakikat”

*Abdulloh bin Alwi al Haddad

Wong ibadah kerono taqorrub ilallah jek arep2 imbalan, iku jek diarani ikhlas, menurut orang syariat

Tapi mungguhe wong hakikat iku gak ikhlas, ikhlas iku kerono Allah tok.

((37))

Artinya belajar ilmu itu gak oleh malu, semono ugo mulang, gak kenek malu..

Kapan e malu gak sido belajar gak sido mulang

Wong seng malu itu tidak mungkin belajar ilmu, begitu pula orang ya g sombong, tidak mungkin mencari ilmu

Pirang2 wong seng aombong gak gelem ngaji sebab wong seng mulang iku pernah adike, pernah ponakan e, dll

-Pamanku jenenge Nur Ali, rungkut Kedung Asem, adike bapak seng ruju, bapakku mbarep

Iku aku ngaji neng ndi wae milu, saben seloso milu ng tambakberas

Ng Njiwan Madiun, Bulurejo Madiun, Suroboyo yo milu

Ng ndi2 melu ngaji, padahal iku paklek, gak nduwe isin padahal ngaji ng ponakan e

Bengi ng Masjid, Isuk alun2 madiun, jam 10 Balerejo, baru kundur

Bareng sedho wes oleh 7 tahun, anak e sedho, anak e wasiat “nek aku mati, aku kuburen sansinge bapak”

Akhire didudukno kuburan sebelah kulone

Nek nduduk kemepeten, ngeneki ulese bapak e, ulese bedah, ternyata 7 tahun bapake jenazahe jek utuh

Wong seng ahli ngaji jenazahe utuh

-shohabat anshor iku gak malu golek ilmu

((38))

Wong wedok ora malu2 belajar ilmu, ealaupun ilmu yang ditanyakan berkaitan dengan pribadi

“Nek onok wong wedok ngipi metu mani, opo wajib ados?”

“iyo, nek onok wong wedok ngipi metu mani, tapi memang onok mani seng metu”

Mergo pirang2 wong ngipi kumpul suami istri, tapi gak metu mani

Ummu Salamah isin, akhire nutupi wajah e

Akhire bareng Ummu Sulaim wes gak onok, Ummu Salamah takon

“iyo wong wedok yo metu mani, wah ciloko we” “mulane onok anak iku serupo mbek ibuk e”

Intine wong wedok shahabat e anshor termasuk ummu sulaim itu gak malu2 walaupun pertanyaan menyangkut pada pribadinya sendiri

((39))

Orang kalau hadat kecil harus wudlu, kalau hadats besar maka harus mandi

Hadramaut itu adalah suatu daerah yang berada di Yaman

Entut seng gak metu suarane, entut semg metu suarane iku termasuk hadats, itu hanya sebagian

Termasuk sentuhan laki2 lerempuan bukan mahrom yang sudah baligh, buang air besar, bhang air kecil

((40))

Besok wong ahli suargo iku ghurrun muhajjalun, wajahe mencorong2, tangan sikile mencorong2, ini tidak lain adalah sebab bekas2nya wudlu ketika di dunia

Biasane masjid Arab itu munggah, tempate wudlu iku munggah

Wong iku nek arepe ibadah iku diganggu ambek syetan, nalikane wudlu diganghu arepe aholat iganggu ambek syetan

Nalikane turu diganggu mbek syetan “waktune sek dowo turuo” akhire kebablasan ora jamaah

Ngko kapan e wudlu yo nfunu, kapane mari wudlu koyok2 air kencing metu, iku bhktikno meru temen opo ora

Kadang koyok2 ngentut padahal gak ngentut.

Iku mergo opo? Mergo disebuli syetan supoyo ragu2

Onok seng berat kapane takbirotul ihrom, rumonggo gak dadi wae

*Nek ragu2 tok, ora yakin iku ora kudu wudlu maneh

Naliko sholat utowo arepe sholat iku dibayang2no koyok metu entut

Nek krungu suoro iku jenenge yaqin

Itowo gak krungu suoro tapi mambu

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.